lucu pendidikan lucu

“Bagaimana anda meyakinkan generasi mendatang bahwa pendidikan adalah kunci keberhasilan ketika kita dikelilingi lulusan yang miskin dan penjahat yang kaya”  (Robert Mugabe)

BELAJAR TIDAK DIBATASI RUANG DAN WAKTU

Belajar adalah sifat manusia yang dibawa lahir dan merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi SEBAHAGIAN manusia tidak mensyukurinya, Tidak menunjukkan hasil belajar yaitu:
1. Tidak menjadi baik :: Mengaku berke-Tuhan-an tapi tidak berperi ke-Manusia-an::
2. Tidak maju :: ZAMAN ROMAWI unjuk rasa SEKARANG masih bangga ber-unjuk rasa.

sebaiknya bermain MUSIK saja karena musik dimengerti oleh semua MAJU BERSAMA HEBAT SEMUA.

PENILAIAN JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA

UNSUR UTAMA

(1) Pendidikan yaitu: Ijazah guru yang sesuai dengan tugasnya, dan sertifikat Prajabatan+sertifikat program induksi. (2) Pembelajaran yaitu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisis evaluasinya, meremedial dan mengayakan. (3) Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) (a) Pengembangan diri yaitu diklat fungsional, kegiatan kolektif guru (b) PIN (publikasi ilmiah/karya teknologi dan inovasi).

UNSUR PENUNJANG

(a) Ijazah guru yang tidak relevan dengan bidang tugas (b) kegiatan organisasi profesi, Pramuka dan sejenisnya.

PTK termasuk dalam PKB. Sebuah PTK yang dilaksanakan oleh guru harus diseminarkan disekolah, setelah kelengkapan administrasinya dipenuhi lalu diajukan ketim penilai Angka Kredit maka, PTKnya akan mendapat angka kredit 4. Seminar yang standar, dihadiri paling sedikit 15 orang guru peserta, ada kepanitiaan, lengkap administrasinya.

Unsur Utama 90% dan Unsur Penunjang 10% sesuai Permennegpan dan reformasi birokrasi nomor 16 tahun 2009 efektif berlaku Januari 2013. Setiap Tahun (Januari-Desember) harus dilakukan Penilaian Kinerja Guru oleh Kepala Sekolah. Guru yang menilai kinerja guru haruslah (sebaiknya) sejenis dengan guru yang dinilainya sehingga kepala sekolah harus menunjuk guru untuk tugas menilai kinerja dimaksud. Semua kita guru diharap saling membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan ini demi kesejahteraan guru indonesia.

Anakhon hi do hamoraon di ahu

Dalam budaya Batak, orang Batak dalam komunitasnya selalu menyebut Bangsa Batak. Bangsa Batak memiliki kekayaan intelektual yang begitu berharga dan terhormat yaitu (1) Tanah Batak (2) Bahasa Batak (3) Aksara Batak (4) Adat Batak.
Adat Batak mempunyai banyak keunggulan namun banyak diantara orang Batak yang mengatakan dirinya beradat tapi membelokkan makna adat tersebut untuk kepentingan menguntungkan diri sendiri, sehingga menyebabkan pandangan terhadap adat Batak tersebut buruk. saya tidak membahas mengenai pandangan buruk ini tapi akan mengambil satu diantara keunggulan adat Batak yaitu makna palsafah “Anakhon hi do hamoraon di ahu”. Anak adalah keturunan secara biologis (kebanyakan dimaksudkan menyatakan laki-laki walaupun sebenarnya termasuk perempuan namun perempuan sering disebut Boru) yang sangat diharapkan oleh seseorang, seorang Batak merasa hidupnya benar jika dia mendapat keturunan lengkap laki-laki dan ada perempuan, seorang Batak disebut kaya (namora) jika mempunyai banyak keturunan serta disebut sempurna (mauli bulung) jika anak-anaknya mempunyai kualitas tinggi, bermartabat dan masing-masing panjang umur. Palsafah “Anakhonhi do hamoraon di ahu” sangat dalam terukir pada jiwa dan hidup orang Batak maka, semua orang Batak gigih menyekolahkan anaknya (untuk membuat anaknya lebih bermartabat) ~hu gogo pe mansari arian nang bodari laho pasikkolahon gellenghi, — ndang jadi hatinggalan sian dongan magodangna i~ artinya saya bekerja siang dan malam untuk menyekolahkan anak ku, — anakku tak kurelakan tertinggal dari sebayannya. Pada saat ini teriring berjalannya waktu dan lemahnya pendidikan kepada generasi muda Batak serta malas menggali budaya Batak serta derasnya resapan nilai buruk adat budaya luar dalam kehidupannya. tulisan ini mengingatkan kita agar kembali memahami menghayati dan mengamalkan palsafah “anakhon hi do hamoraon di ahu”.