Anakhon hi do hamoraon di ahu

Dalam budaya Batak, orang Batak dalam komunitasnya selalu menyebut Bangsa Batak. Bangsa Batak memiliki kekayaan intelektual yang begitu berharga dan terhormat yaitu (1) Tanah Batak (2) Bahasa Batak (3) Aksara Batak (4) Adat Batak.
Adat Batak mempunyai banyak keunggulan namun banyak diantara orang Batak yang mengatakan dirinya beradat tapi membelokkan makna adat tersebut untuk kepentingan menguntungkan diri sendiri, sehingga menyebabkan pandangan terhadap adat Batak tersebut buruk. saya tidak membahas mengenai pandangan buruk ini tapi akan mengambil satu diantara keunggulan adat Batak yaitu makna palsafah “Anakhon hi do hamoraon di ahu”. Anak adalah keturunan secara biologis (kebanyakan dimaksudkan menyatakan laki-laki walaupun sebenarnya termasuk perempuan namun perempuan sering disebut Boru) yang sangat diharapkan oleh seseorang, seorang Batak merasa hidupnya benar jika dia mendapat keturunan lengkap laki-laki dan ada perempuan, seorang Batak disebut kaya (namora) jika mempunyai banyak keturunan serta disebut sempurna (mauli bulung) jika anak-anaknya mempunyai kualitas tinggi, bermartabat dan masing-masing panjang umur. Palsafah “Anakhonhi do hamoraon di ahu” sangat dalam terukir pada jiwa dan hidup orang Batak maka, semua orang Batak gigih menyekolahkan anaknya (untuk membuat anaknya lebih bermartabat) ~hu gogo pe mansari arian nang bodari laho pasikkolahon gellenghi, — ndang jadi hatinggalan sian dongan magodangna i~ artinya saya bekerja siang dan malam untuk menyekolahkan anak ku, — anakku tak kurelakan tertinggal dari sebayannya. Pada saat ini teriring berjalannya waktu dan lemahnya pendidikan kepada generasi muda Batak serta malas menggali budaya Batak serta derasnya resapan nilai buruk adat budaya luar dalam kehidupannya. tulisan ini mengingatkan kita agar kembali memahami menghayati dan mengamalkan palsafah “anakhon hi do hamoraon di ahu”.

Iklan